September 28, 2020

Wahai Penuntut Ilmu; Lelahmu, Memuliakanmu

Anak-anak kita, terkadang hati mereka jenuh karena terus merenungkan ilmu yang mereka pelajari, menghafal Alquran, hadits, sholat dan materi lainnya, mendengarkan nasehat ustadzah ustadz. Merasa lelah ketika setiap hari harus belajar, belajar dan belajar. Di perguruan tinggi, belajar. Di rumah, belajar lagi. Tetap menghafal. Merasa lelah karena harus duduk dengan tertib, diajar dengan sopan santun. Merasa terbebani dengan perjuangan mencari ilmu sebagai mujahidin pengawal agama-Nya yang tangguh. Pengganti misi Rasulullah SAW untuk mengembalikan kejayaan Islam. Dalam berbagai buku referensi Islam kegiatan belajar adalah wajib, sampai ada pepetah mengatakan “kejarlah ilmu sampai ke negeri cina”.

Ilmuwan tidak akan tinggal diam. Dia melakukan perjalanan jauh dari rumahnya untuk belajar. Ia akan mendapatkan ilmu yang membuatnya mulia dan mulia dimata Kelinci-Nya, ia akan mendapatkan mainan pengganti yang menyenangkan.

Tentu kita juga belajar dari generasi besar sebelumnya, seperti dia-rahimakumullah, semangat yang sangat besar dalam mencari ilmu. Perjuangannya untuk terus belajar sangat kuat. Bersedia melakukan perjalanan jauh untuk mempelajari 1 bab sains. Meski hanya untuk memperoleh 1 hadits, ia melakukan perjalanan siang malam di tengah gurun pasir yang gersang, di bawah terik matahari dan dinginnya malam, dengan perbekalan yang sangat terbatas. Namun, beban perjuangan tersebut justru terkesan ringan karena nikmatnya ilmu yang ia rasakan. Bagaimana Imam Ahmad ditanya oleh temannya karena terlihat sangat antusias dan tidak pernah lelah mencari ilmu.

Yang kami maksudkan setiap langkah anak-anak kami untuk memperjuangkan ilmu disini, hanya mengharapkan ridha Allah SWT, niat berjuang untuk fi sabilillah. Kami mempercayakan anak-anak untuk belajar di perguruan tinggi tidak hanya untuk mencapai nilai-nilai yang baik dalam hubungan, tidak hanya untuk mendapatkan pujian dari master, tidak hanya untuk mencapai tujuan menghafal, bukan hanya untuk mencapai gelar, pekerjaan, jabatan, kekuatan atau popularitas.

Kecuali bersedekah untuk meningkatkan kualitas ketaatan, raihlah derajat dan kemuliaan yang tinggi di hadapan Tuhan. “.. Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diinformasikan, sampai taraf tertentu” (QS. Al Mujadilah: 11). Penaklukan dunia hanyalah salah satu jembatan bagi kita untuk memperkuat penaklukan akhirat. Seperti ulama sebelumnya, mereka luar biasa dalam ketaatan kepada Tuhan dan luar biasa dalam bidang ilmu / sains.

Wahai ayah dan ibu, marilah kita mengeraskan hati untuk membawa putra-putri kita yang sedang berjuang mencari ilmu di jalan Allah. Sebuah perjuangan yang akan menjadikan mereka generasi kebanggaan emas, menyandang mahkota terang bagi calon ayah dan ibu serta anugerah yang terus mengalir tanpa henti.

Seperti yang dicontohkan oleh ibu Imam Syafi’i, Fathimah binti Ubeidillah yang membesarkan Syafi’i seorang diri sejak ditinggal suaminya. Ibunya dengan senang hati membebaskannya pada usia 10 tahun untuk belajar di Mekah. Kami juga meniru kecerdikan ibu Imam Syafi’i dalam membentuk kecerdikan dan kepribadian Imam Syafi’i hingga berhasil menjadi imam besar.