October 20, 2020

Si Jangkung yang Lemah di Udara

Geoffrey Castillion secara resmi telah diperkenalkan sebagai striker baru Persib Bandung pada 11 Februari 2020. Ia akan mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Ezechiel N’douasel dan Kevin Kippersluis. Dikutip dari dominoqq pemain Belanda itu bermain untuk Fylkir musim lalu dengan status pinjaman dari skuad Úrvalsdeild (liga Islandia) lain, Fimleikafélag Hafnarfjarðar (FH).

Castillion bergabung dengan skuad yunior Ajax pada 2005 dan bermain hingga 2010. Ia tampil untuk skuad senior Ajax di Mac 2011 Eredivisie, sayangnya perlawanan terhadap ADO Den Haag menjadi satu-satunya penampilan Castillion untuk skuad senior Ajax. Ia dipinjamkan beberapa kali sebelum berangkat ke skuad MLS, New England Revolution. Castillion kemudian pergi ke liga Rumania dan Hongaria sebelum menuju ke Islandia setelah Víkingur Reykjavík memberinya kontrak pada 2017.

Setahun kemudian, dia menandatangani kontrak dengan FH. Karirnya bersama FH tidak mulus, ia disewakan ke Víkingur Reykjavík pada tahun 2018. Musim lalu ia dipinjamkan lagi, kali ini ke Fylkir. Di cadangan Instat, Castillion membuat 22 penampilan dengan torehan 11 gol dan enam assist. Ia bermain bersama Persib melawan Melaka United, Barito Putera dan Persis Solo dengan dua gol di laga pertama.

Sepanjang musim 2019, sebagian besar gol yang ia cetak berasal dari posisi bagus dan skill swiping. Meski memiliki tinggi 192cm, Castillion bukanlah penyerang yang malas menunggu bola di area penalti. Dia sering pindah untuk melarikan diri dari penjaga lawannya dan tahu ke mana harus bergerak. Kecepatannya di atas rata-rata untuk pemain yang sangat terlatih. Tak hanya pantas berlari, kaki Castillion juga cukup layak untuk mengalahkan lawan. Dia melakukan pemetikan kemenangan 2,3. Castillion juga mengandalkan fisiknya yang kuat untuk menggiring bola, sehingga semakin sulit bagi lawan untuk mendapatkan bola darinya.

Tak hanya dengan menciptakan peluang sendiri, Castillion juga bisa menciptakan peluang untuk rekan satu timnya. Castillion sering turun untuk mengambil bola dan memberi makan mitra saat bepergian, terutama pemain dengan prestasi. Rekor enam assist dan 1,3 hit utama per game berarti Castillion lebih dari sekadar jaring.

Castillion juga dapat berevolusi untuk membantu serangan jika diperlukan. Tak jarang dia melakukan penetrasi dari sektor sayap yang diakhiri dengan umpan silang atau tembakan yang menusuk di kotak penalti lawan. Sekali lagi, postur tubuh yang besar tidak menghentikan Castillion untuk bergerak untuk mengguncang pertahanan lawan.

Meski bertubuh besar, Castillion sering kesulitan saat terlibat dalam duel udara. Kepala Castillion tampaknya tidak mengancam gawang lawan karena tidak ada satu gol pun musim lalu yang tercipta dari sundulan. Faktanya, dari 67 tembakan yang dia tembak, hanya tiga yang merupakan tembakan kepala dan hanya satu yang mengarah ke gawang.

Castillion hanya memenangkan 28% dari total 125 duel udara. Postur yang bagus tidak seharusnya membuat pemain dominan di udara. Castillion tampaknya mengalami kesulitan membaca bola di udara, memposisikan dirinya di depan dalam pertempuran udara, dan memutuskan kapan dia harus melompat. Tak jarang pemain lawan melompat lebih dulu sehingga Castillion kalah duel.

Castillion hanya terpaut empat gol dari gawang raksasa di musim 2019 dengan rekor bermain hanya untuk pasukan yang berada di posisi kedelapan dari total 12 pasukan. Adapun untuk kesuksesan gol, Castillion mencetak rata-rata 153 menit, tidak jauh dari Eze yang mencatat waktu 147 menit di Liga 1 2019, dan jelas kemenangan itu jauh lebih sedikit dari menit 553 Kippersluis.

Sejauh menyangkut ketajaman, dia tidak jauh berbeda dengan Eze, tetapi perbedaan situasi dan budaya sepakbola di Indonesia dan Islandia harus ditekankan dengan jelas. Dribbling dan mobilitas adalah keunggulan Eze’s Castillion. Keuntungan paling jelas adalah kartu catatan. Castillion hanya menerima empat kartu kuning, selain sebelas kartu kuning Eze dan satu kartu merah yang membuatnya tampil lima kali musim lalu.